Pore care menjadi salah satu konsep yang menarik untuk dikembangkan menjadi sebuah brand skincare. Bukan hanya karena concern terhadap tampilan pori cukup familiar di kalangan pengguna skincare, tetapi juga karena kategori ini dapat dikembangkan menjadi rangkaian produk yang saling melengkapi.
Concern terhadap pori biasanya tidak berdiri sendiri. Konsumen yang memperhatikan tampilan pori juga sering berhadapan dengan minyak berlebih, komedo, penumpukan kotoran, tekstur kulit yang terasa kurang halus, hingga kebutuhan menjaga hidrasi dan skin barrier.
Bagi brand owner, kondisi tersebut membuka peluang untuk tidak sekadar membuat satu produk, tetapi membangun pore care series dengan positioning yang lebih jelas.
Namun, Anda tidak harus langsung membuat seluruh rangkaian sekaligus. Brand dapat dimulai dari satu hero product, kemudian dikembangkan secara bertahap berdasarkan kebutuhan target market. Sebelum menyusun konsep, ada baiknya memahami dulu cara memulai bisnis skincare dari nol agar arah brand lebih jelas.
Jika Anda sedang mencari inspirasi produk maklon skincare untuk membangun brand dengan konsep pore care, berikut 8 ide produk yang dapat dieksplorasi bersama Dreamlab maklon kosmetik.
Mengapa Pore Care Menarik untuk Dijadikan Konsep Brand?
Saat memulai brand skincare, pertanyaan pertama sebaiknya bukan hanya: "Produk apa yang sedang ramai?" Tetapi: "Masalah kulit apa yang ingin menjadi fokus brand saya?"
Menentukan skin concern sejak awal membantu brand memiliki arah yang lebih jelas dalam memilih produk, formula, hero ingredient, komunikasi, hingga pengembangan SKU berikutnya.
Pore care menjadi menarik karena satu concern dapat diterjemahkan ke berbagai tahapan skincare routine. Mulai dari membersihkan sunscreen dan sebum melalui cleansing oil, membersihkan wajah menggunakan facial cleanser, memberikan treatment melalui serum, hingga melengkapi rutinitas dengan moisturizer dan sunscreen.
Artinya, brand mempunyai ruang yang cukup luas untuk berkembang tanpa kehilangan benang merah produknya. Berikut beberapa produk yang bisa dipertimbangkan.
1. Pore Cleansing Oil
Pore care dapat dimulai sejak tahap pertama skincare routine melalui Pore Cleansing Oil. Produk ini dapat dikembangkan sebagai first cleanser untuk membantu membersihkan makeup, sunscreen, sebum, dan kotoran sebelum melanjutkan ke facial cleanser.
Dari sisi formulasi, brand dapat mengeksplorasi ingredient seperti Jojoba Oil, Bisabolol, dan Centella Asiatica sesuai karakter produk yang ingin dikembangkan.
Namun, yang membuat cleansing oil menarik bukan hanya ingredient-nya. Brand juga perlu mempertimbangkan pengalaman ketika produk digunakan: bagaimana teksturnya ketika diaplikasikan, proses emulsifikasi ketika terkena air, hingga sensasi kulit setelah produk dibilas.
Dengan konsep yang tepat, cleansing oil dapat menjadi pintu masuk untuk membangun keseluruhan pore care routine.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: Jojoba Oil, Bisabolol, Centella Asiatica.
2. Pore Cleanser
Setelah first cleansing, brand dapat mengembangkan Pore Cleanser sebagai produk daily cleansing. Produk ini dapat diarahkan untuk target konsumen yang memiliki concern terhadap minyak berlebih, komedo, maupun tampilan pori.
Dalam pengembangan formulanya, ingredient seperti Salicylic Acid dan Zinc PCA dapat menjadi beberapa opsi yang dieksplorasi sesuai target dan positioning produk.
Namun cleanser yang baik tidak hanya berbicara mengenai active ingredient. Sensasi setelah mencuci wajah juga penting. Brand dapat menentukan apakah ingin menciptakan cleanser dengan busa lembut, tekstur gel, atau karakter lainnya yang sesuai dengan pengalaman penggunaan yang ingin diberikan kepada konsumen.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: Salicylic Acid, Zinc PCA, Centella Asiatica.
3. Pore Toner
Produk berikutnya yang dapat melengkapi rangkaian adalah Pore Toner. Toner memberikan ruang yang menarik bagi brand untuk mengembangkan konsep skin preparation sekaligus treatment ringan sebelum penggunaan serum.
Salah satu konsep yang dapat dieksplorasi adalah toner dengan pendekatan gentle exfoliating menggunakan ingredient seperti PHA, kemudian dipadukan dengan Niacinamide atau soothing ingredients sesuai kebutuhan formula.
Tekstur yang ringan dan mudah digunakan juga membuat toner cukup fleksibel untuk dimasukkan ke dalam daily skincare routine. Bagi brand, produk ini dapat menjadi jembatan antara tahap cleansing dan treatment.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: PHA, Niacinamide, soothing ingredients.
4. Pore Serum
Jika ingin memulai brand dari satu produk terlebih dahulu, Pore Serum dapat menjadi salah satu kandidat hero product yang menarik. Serum memberikan ruang yang cukup luas untuk mengembangkan kombinasi active ingredients sekaligus membangun komunikasi produk yang kuat.
Brand dapat mengeksplorasi ingredient seperti Niacinamide, Zinc PCA, dan Peptide sesuai dengan tujuan formula yang ingin dikembangkan.
Tetapi sebelum menentukan ingredient, tentukan terlebih dahulu fokus produknya. Apakah produk ingin diarahkan pada tampilan pori dan minyak berlebih? Apakah ingin fokus pada tekstur kulit? Atau menggabungkan beberapa kebutuhan tersebut dalam satu konsep?
Arah tersebut nantinya akan membantu tim formulasi mengembangkan produk yang lebih sesuai dengan positioning brand.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: Niacinamide, Zinc PCA, Peptide.
5. Pore Peptide Serum
Kalau ingin membawa konsep pore care ke positioning yang terasa lebih premium, brand dapat mengeksplorasi Pore Peptide Serum. Pore care selama ini cukup identik dengan komunikasi mengenai exfoliation, sebum, dan cleansing.
Menghadirkan Peptide Complex memberikan ruang bagi brand untuk membangun pendekatan yang berbeda. Peptide dapat dieksplorasi bersama supporting ingredients seperti Niacinamide sesuai tujuan formulasi dan karakter produk yang ingin diciptakan.
Konsep ini menarik bagi brand yang ingin mempunyai serum dengan komunikasi pore care yang lebih modern dan sophisticated.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: Peptide Complex, Niacinamide.
6. Pore Clay Mask
Tidak semua produk dalam pore care series harus menjadi daily skincare. Brand juga dapat menghadirkan Pore Clay Mask sebagai additional atau weekly treatment.
Ingredient seperti Kaolin dan Bentonite dapat dieksplorasi sebagai dasar konsep clay mask, kemudian dikombinasikan dengan soothing ingredients seperti Centella Asiatica sesuai kebutuhan formulasi.
Dari sisi marketing, clay mask juga memiliki kelebihan karena mempunyai karakter visual yang kuat. Tekstur, proses pengaplikasian, hingga pengalaman ketika membilas produk dapat dikembangkan menjadi berbagai format konten untuk social media.
Hal tersebut membuat Pore Clay Mask tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap rangkaian, tetapi juga dapat menjadi produk yang menarik secara visual.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: Kaolin, Bentonite, Centella Asiatica.
7. Pore Moisturizer
Salah satu kesalahan ketika membangun konsep pore care adalah terlalu fokus pada exfoliation dan oil control. Padahal, hidrasi dan skin barrier tetap menjadi bagian penting dari skincare routine. Karena itu, brand dapat melengkapi rangkaian dengan Pore Moisturizer.
Ingredient seperti Ceramide, Panthenol, dan Niacinamide dapat dieksplorasi untuk membangun konsep moisturizer yang melengkapi rangkaian pore care.
Selain ingredient, tekstur menjadi faktor penting. Misalnya, apabila target market merupakan konsumen dengan kecenderungan kulit berminyak, brand dapat mendiskusikan pengembangan tekstur yang terasa ringan dan nyaman digunakan sehari-hari.
Dengan moisturizer, rangkaian pore care menjadi lebih balance karena tidak hanya berfokus pada cleansing dan treatment.
Hero ingredient yang dapat dieksplorasi: Ceramide, Panthenol, Niacinamide.
8. Pore Sunscreen
Untuk melengkapi morning routine, brand juga dapat mempertimbangkan Pore Sunscreen. Sunscreen mempunyai peran yang berbeda dari treatment pore care lainnya karena fungsi utamanya tetap sebagai perlindungan terhadap paparan sinar UV.
Namun dari sisi konsep brand, sunscreen tetap dapat dibuat selaras dengan rangkaian pore care melalui pemilihan supporting ingredients, tekstur, dan product experience. Selain sistem UV filter yang dikembangkan dalam formulasi, supporting ingredient seperti Niacinamide dapat dieksplorasi sesuai konsep produk.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah finish produk. Apakah brand ingin sunscreen yang terasa ringan? Bagaimana ketika digunakan bersama skincare lainnya? Apakah nyaman digunakan sebelum makeup? Detail seperti inilah yang nantinya ikut menentukan pengalaman konsumen terhadap produk.
Ingredient yang dapat dieksplorasi: UV Filters dan supporting ingredients seperti Niacinamide sesuai konsep formula.
Setiap produk di atas termasuk kategori produk skincare yang bisa dikembangkan di Dreamlab dan dapat disesuaikan berdasarkan target konsumen, tekstur, serta positioning brand.
Jangan Memilih Hero Ingredient Hanya Karena Sedang Viral
Niacinamide, Salicylic Acid, Peptide, Ceramide, hingga PHA memang memiliki daya tarik yang cukup kuat dalam komunikasi skincare. Namun ketika mengembangkan produk, ingredient sebaiknya tidak dipilih hanya karena sedang banyak dibicarakan.
Sebelum menentukan hero ingredient, brand perlu memahami terlebih dahulu:
- Siapa target konsumennya?
- Skin concern apa yang ingin menjadi fokus produk?
- Apa yang ingin membuat produk ini berbeda dari pilihan lain di market?
- Pengalaman seperti apa yang ingin diberikan ketika konsumen menggunakannya?
Setelah fondasi tersebut jelas, barulah formula dan ingredient dikembangkan untuk mendukung konsep. Dengan begitu, hero ingredient tidak hanya menjadi tulisan di bagian depan packaging, tetapi mempunyai alasan yang jelas untuk berada di dalam produk.
Tidak Harus Langsung Membuat 8 Produk
Melihat delapan ide produk di atas bukan berarti brand baru harus langsung memproduksi semuanya. Justru, Anda dapat memulai dari satu hero product.
- Misalnya, brand memulai dengan Pore Serum sebagai produk utama.
- Setelah awareness dan positioning mulai terbentuk, rangkaian dapat diperluas dengan Pore Cleansing Oil dan Pore Cleanser.
- Kemudian, brand dapat menghadirkan Pore Moisturizer atau Pore Sunscreen untuk membangun routine yang semakin lengkap.
- Setelah itu, produk tambahan seperti Pore Clay Mask atau Pore Peptide Serum dapat digunakan untuk memperluas pilihan treatment.
Strategi seperti ini membuat setiap produk baru mempunyai alasan untuk diluncurkan dan tetap berada dalam satu territory yang sama.
Dari Satu Pore Serum Menjadi Identitas Brand
Inilah salah satu peluang terbesar ketika membangun brand berdasarkan satu skin concern. Awalnya konsumen mungkin mengenal brand dari satu produk: Pore Serum.
Namun ketika produk berikutnya tetap mempunyai benang merah yang sama, persepsi konsumen dapat berkembang. Brand tidak lagi sekadar dikenal sebagai brand yang mempunyai serum. Brand mulai mempunyai territory: "Kalau bicara pore care, brand ini punya rangkaiannya."
Inilah alasan mengapa menentukan konsep sejak awal menjadi penting. Produk pertama bukan hanya produk yang akan dijual hari ini, tetapi dapat menjadi fondasi untuk menentukan bagaimana brand berkembang selanjutnya.
Maklon Skincare Sebaiknya Dimulai dari Konsep
Saat mencari partner maklon skincare, jangan hanya melihat daftar produk yang tersedia. Coba mulai dengan konsep. Misalnya: "Saya ingin membangun brand skincare dengan fokus pore care untuk konsumen muda dengan kulit berminyak."
Dari satu kalimat tersebut, diskusi product development bisa berkembang jauh lebih spesifik. Produk pertama apa yang paling relevan? Hero ingredient apa yang dapat dieksplorasi? Tekstur seperti apa yang sesuai dengan target konsumen? Produk apa yang nantinya dapat menjadi SKU kedua dan ketiga?
Dua brand bisa sama-sama membuat serum dengan Niacinamide, tetapi mempunyai formula, tekstur, positioning, target market, packaging, dan komunikasi yang sangat berbeda. Karena itulah custom formula menjadi penting dalam proses membangun produk. Pengalaman serupa juga dibahas pada artikel maklon skincare di Jawa Timur dan strategi membangun brand skincare yang lebih terarah.
Kembangkan Produk Pore Care Bersama Dreamlab
Jika Anda mempunyai ide membuat brand pore care tetapi belum tahu harus memulai dari produk apa, Anda dapat memulainya dari diskusi bersama tim Dreamlab maklon kosmetik.
Tidak harus datang dengan konsep yang sudah sempurna. Anda bisa membawa skin concern yang ingin diangkat, referensi produk, ingredient yang menarik, target market, atau bahkan sekadar ide: "Saya ingin punya brand khusus pore care."
Dari sana, konsep dapat didiskusikan lebih lanjut untuk menentukan produk, karakter formula, hero ingredient, hingga potensi pengembangan rangkaiannya. Dreamlab mengembangkan produk dengan pendekatan 1 Client = 1 Custom Formula, sehingga formula dapat disesuaikan dengan konsep dan kebutuhan masing-masing brand.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar mempunyai produk skincare. Tetapi membangun produk yang mempunyai konsep dan alasan kuat untuk dipilih konsumen. Inilah yang menjadikan Dreamlab dikenal sebagai "Juaranya Formula" di industri maklon kosmetik Indonesia. Untuk memahami peran Dreamlab sebagai brand partner, baca juga layanan one-stop maklon kosmetik Dreamlab.
Punya Ide Brand Pore Care?
Mulai dari satu ide terlebih dahulu. Konsultasikan konsep produk Anda bersama Dreamlab dan eksplorasi formula yang sesuai untuk membangun brand pore care Anda.
Diskusikan HPP, formula, dan strategi brand pore care-mu tanpa komitmen awal.
Konsultasi Gratis dengan DreamlabPertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah bisa request sample terlebih dahulu?
Bisa. Dreamlab menyediakan proses sampling agar Anda dapat mencoba dan mengevaluasi formula terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tahap produksi.
Berapa MOQ maklon skincare di Dreamlab?
MOQ di Dreamlab fleksibel dan dapat disesuaikan dengan jenis produk serta kebutuhan brand. Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan tim Dreamlab untuk menentukan opsi yang paling sesuai dengan produk yang ingin dikembangkan.
Bisakah brand pemula memulai hanya dengan satu produk pore care?
Ya. Dreamlab mendukung brand yang memulai dari satu hero product, seperti Pore Serum, sebelum rangkaian diperluas secara bertahap. Konsultasikan konsep produk terlebih dahulu agar tim dapat memberikan rekomendasi SKU awal yang paling relevan.
Produk pore care apa saja yang bisa dibuat di Dreamlab?
Cleansing oil, cleanser, toner, serum, peptide serum, clay mask, moisturizer, hingga sunscreen dapat dikembangkan bersama Dreamlab dengan custom formula sesuai konsep brand.
Dreamlab berada di mana?
Head Office Dreamlab berada di Surabaya, Jawa Timur. Konsultasi mengenai pengembangan produk dapat dilakukan bersama tim Dreamlab sesuai kebutuhan.

