Pernah terpikir untuk punya brand skincare sendiri, tetapi masih bingung harus mulai dari mana? Mungkin Anda sudah punya ide produk — ingin membuat serum, sunscreen, atau facial wash yang cocok untuk kulit berminyak.
Tetapi ketika mulai melihat marketplace, Anda menemukan ratusan bahkan ribuan produk yang terlihat hampir sama. Akhirnya muncul pertanyaan: “Masih bisa nggak sih bikin brand skincare baru?”
Jawabannya: masih bisa. Tetapi cara memulainya tidak harus dengan membuat produk sebanyak mungkin.
Untuk pemula, salah satu pendekatan yang lebih masuk akal adalah melihat kategori yang sudah memiliki demand, kemudian mencari masalah konsumen yang lebih spesifik dan mengembangkan produk untuk menjawab masalah tersebut.
Jadi bukan sekadar “Apa yang sedang viral?”, tetapi: “Apa yang dicari konsumen, siapa konsumennya, dan masalah apa yang bisa brand saya jawab?”
Dari sinilah sebuah brand skincare mulai mempunyai arah bersama Dreamlab maklon kosmetik sebagai Beauty Brand Development Partner Anda. Dreamlab — Juaranya Formula.
1. Anda Bisa Memulai dari Kategori yang Sudah Memiliki Demand
Membuat produk pertama selalu menjadi tantangan. Kalau memilih produk yang terlalu niche, Anda mungkin kesulitan menemukan market. Tetapi kalau membuat produk yang sudah sangat umum, persaingannya tentu lebih banyak.
Karena itu, data market dapat menjadi starting point untuk melakukan riset.
Dalam riset Compas pada periode April–Juni 2022, penjualan kategori skincare di marketplace mencapai Rp292,4 miliar dengan sekitar 3,8 juta transaksi. Compas juga menemukan brand lokal seperti Somethinc, Scarlett, MS Glow, Avoskin, dan Whitelab berada di antara brand skincare lokal dengan penjualan tertinggi pada periode tersebut.
Penjualan 5 Brand Skincare Lokal Teratas
Data penjualan marketplace periode April–Juni 2022 yang dikutip Compas (Data historis).
YUK KONSULTASI PRODUK ANDA
Diskusikan konsep produk, HPP produk, dan strategi brand-mu bersama tim Dreamlab.
Konsultasi Gratis dengan DreamlabYUK KONSULTASI PRODUK ANDA
Diskusikan konsep produk, HPP produk, dan strategi brand-mu bersama tim Dreamlab.
Konsultasi Gratis dengan DreamlabYUK KONSULTASI PRODUK ANDA
Diskusikan konsep produk, HPP produk, dan strategi brand-mu bersama tim Dreamlab.
Konsultasi Gratis dengan DreamlabYUK KONSULTASI PRODUK ANDA
Diskusikan konsep produk, HPP produk, dan strategi brand-mu bersama tim Dreamlab.
Konsultasi Gratis dengan DreamlabYUK KONSULTASI PRODUK ANDA
Diskusikan konsep produk, HPP produk, dan strategi brand-mu bersama tim Dreamlab.
Konsultasi Gratis dengan DreamlabSumber: Riset Pasar Compas, April–Juni 2022.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya siapa yang berada di posisi pertama. Compas juga memberikan contoh bahwa brand yang relatif baru dapat berkembang ketika memiliki produk dan positioning yang sesuai dengan kebutuhan konsumennya.
Somethinc, misalnya, berdiri pada 2019 tetapi mencapai penjualan Rp53,2 miliar pada periode tersebut. Whitelab yang berdiri pada 2020 juga mencapai Rp25,3 miliar.
Pelajarannya untuk brand baru:
- Anda tidak harus menjadi brand terbesar sejak hari pertama.
- Anda perlu menemukan entry point yang tepat.
Contohnya, daripada hanya berpikir “Saya mau bikin skincare”, persempit menjadi: “Saya mau membuat skincare untuk perempuan aktif usia 23–30 tahun yang ingin rutinitas sederhana.” Dari sini Anda mulai mempunyai arah yang jelas.
2. Jangan Hanya Membuat Produk yang Laku, Cari Masalah yang Bisa Anda Jawab
Ini bagian yang paling penting. Data market bisa memberi tahu Anda bahwa sebuah kategori memiliki demand. Tetapi data tersebut belum menjawab: “Produk seperti apa yang harus saya buat?”
Misalnya Anda tertarik membuat serum wajah. Jangan berhenti di kata “serum wajah”. Cari satu masalah yang lebih spesifik:
Contoh 1 — Serum untuk Kulit Kusam
Target: Perempuan usia 20–30 tahun yang sering bekerja di dalam ruangan, beraktivitas padat, dan merasa kulit terlihat kusam.
Product direction: Brightening serum untuk daily skincare routine.
Contoh 2 — Moisturizer untuk Kulit Berminyak
Target: Konsumen dengan kulit berminyak yang tidak menyukai moisturizer bertekstur berat atau lengket.
Product direction: Lightweight moisturizer dengan tekstur gel ringan.
Contoh 3 — Facial Wash untuk Daily Use
Target: Konsumen yang ingin membersihkan wajah tanpa sensasi kulit terasa tertarik atau terlalu kering setelah mencuci.
Product direction: Gentle daily facial wash low pH.
Contoh 4 — Sunscreen Aktivitas Harian
Target: Pekerja muda yang membutuhkan sunscreen nyaman dipakai setiap hari dan tidak menimbulkan whitecast.
Product direction: Daily sunscreen dengan fokus pada sensasi nyaman di kulit.
Jadi produk yang dibuat bisa saja sama kategorinya dengan kompetitor. Tetapi masalah yang Anda pilih untuk dijawab bisa berbeda — dan di situlah positioning brand mulai terbentuk.
3. Anda Tidak Perlu Langsung Membuat 10 Produk
Kesalahan yang cukup umum dilakukan pemula adalah ingin terlihat seperti brand besar sejak awal. Baru mulai, langsung ingin merilis rangkaian lengkap:
Face Wash + Toner + Serum + Moisturizer + Sunscreen + Face Mask + Eye Cream + Body Lotion
Padahal semakin banyak produk, semakin banyak juga variabel yang harus Anda kelola:
- Stok dan perputaran barang
- Modal awal yang terpecah
- Biaya packaging dan botol
- Strategi marketing dan edukasi konsumen
- Operasional penjualan dan distribusi
Untuk tahap awal, Anda bisa memilih satu hero product. Contohnya, jika Anda menemukan masalah bahwa banyak perempuan aktif ingin skincare simpel yang tidak memakan waktu, Anda bisa mulai dari:
Hero Product: Brightening Serum
Kemudian setelah produk mendapatkan respons pasar yang positif dan basis konsumen mulai terbentuk, Anda dapat mengembangkan portofolio produk secara bertahap:
Serum → Moisturizer → Facial Wash → Sunscreen
Dengan begitu, portofolio brand tumbuh mengikuti kebutuhan nyata customer, bukan sekadar mengejar jumlah SKU di etalase. Anda juga bisa membaca panduan cara mulai bisnis skincare dari nol.
4. Anda Bisa Membuat Produk Sendiri Tanpa Harus Memiliki Pabrik
Membangun brand skincare tidak berarti Anda harus membangun fasilitas manufaktur bernilai puluhan miliar rupiah sendiri. Anda dapat bekerja sama dengan partner maklon kosmetik untuk mengembangkan seluruh produk Anda.
Namun, di sinilah Anda perlu berhati-hati. Jangan hanya mencari: “Maklon skincare yang paling murah.”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apakah partner tersebut bisa membantu saya membuat produk yang sesuai dengan konsep brand?”
Karena ada perbedaan besar antara:
| Maklon Konvensional (White-Label) | Beauty Brand Development Partner (Dreamlab) |
|---|---|
| Produk sudah tersedia di katalog stok | Dimulai dari riset target market dan masalah konsumen |
| Pilih formula generik pasaran | Penyusunan product brief dan custom formula khusus |
| Hanya menempelkan label dan ganti merk | Pembuatan sampel, uji coba stabilitas, dan evaluasi tekstur |
| Formula dipakai bersama brand lain | 1 Client = 1 Custom Formula (100% Eksklusif) |
| Berhenti setelah proses cetak barang | Didukung pengurusan BPOM, Halal, desain branding & marketing |
Contohnya, saat Anda ingin membuat moisturizer, brief awal Anda:
“Target perempuan 25–35 tahun, kulit cenderung berminyak, tidak menyukai krim berat, ingin moisturizer ringan untuk digunakan pagi dan malam.”
Brief seperti ini jauh lebih berguna bagi tim R&D Dreamlab untuk mendiskusikan arah formula, tekstur, bahan aktif, dan pengalaman penggunaan. Simak standar fasilitas kami di pabrik maklon CPKB Grade A Dreamlab.
5. Brand Anda Tidak Berhenti Setelah Produk Selesai
Ini yang sering dilupakan oleh brand baru. Anda sudah memiliki produk, packaging sudah estetik, formula sudah selesai — lalu siapa yang akan membelinya?
Karena itu, membangun brand skincare membutuhkan dua sisi yang saling melengkapi:
- Product Side: Apakah produk memang relevan, berkualitas, dan aman?
- Market Side: Apakah konsumen memahami nilainya dan menginginkannya?
Dreamlab tidak hanya fokus pada proses produksi fisik di pabrik. Sebagai Beauty Brand Development Partner, Dreamlab juga menyediakan dukungan creative, branding, media promosi, dan digital marketing.
Contohnya, saat Anda membuat serum untuk kulit kusam, produk saja belum cukup. Anda juga perlu merancang ekosistem komunikasinya:
- Problem Content: Edukasi mengenai 3 kesalahan umum yang membuat kulit terlihat kusam.
- Educational Content: Panduan memilih brightening serum yang aman dan tidak mengiritasi.
- Product Content: Demonstrasi tekstur serum, sensasi penyerapan, dan cara pakainya.
- Performance Ads: Menjangkau audiens terarah di platform digital yang memiliki keluhan kulit tersebut.
Formula → Product → Content → Audience → Sales
Semuanya saling terhubung dalam satu strategi bisnis yang matang.
5 Produk Skincare yang Bisa Menjadi Starting Point
Kalau Anda masih bingung memilih produk pertama, berikut lima kategori yang bisa dijadikan starting point untuk riset produk awal Anda:
1. Facial Wash
Facial wash sangat cocok untuk brand yang ingin masuk melalui produk daily skincare dengan repeat order tinggi. Contoh konsep: Gentle low-pH facial wash untuk konsumen yang tidak menyukai sensasi kulit kering setelah mencuci muka. Pelajari opsi di maklon facial wash.
2. Serum
Serum memberikan ruang luas untuk membangun positioning kuat berdasarkan skin concern tertentu. Contoh konsep: Brightening serum untuk perempuan aktif yang menginginkan rutinitas skincare simpel. Cek detail formulasi di maklon serum wajah.
3. Moisturizer
Moisturizer dapat diarahkan berdasarkan kebutuhan tekstur dan perawatan skin barrier. Contoh konsep: Lightweight water-gel moisturizer untuk kulit berminyak. Simak layanan di maklon face cream & moisturizer.
4. Face Mask
Masker dapat dikembangkan sebagai produk pelengkap maupun hero product berkala. Contoh konsep: Hydrating overnight sleeping mask untuk konsumen yang ingin perawatan praktis sebelum tidur. Jelajahi katalog produk skincare Dreamlab.
5. Sunscreen
Sunscreen menjadi pilihan utama bagi brand yang ingin bermain di kategori daily protection dengan demand pasar sangat masif. Contoh konsep: Daily sunscreen ringan dengan proteksi SPF teruji dan nyaman sebelum beraktivitas. Pelajari di layanan maklon sunscreen.
Catatan: Contoh di atas merupakan product direction untuk referensi riset, bukan klaim bahwa konsep tersebut pasti otomatis berhasil tanpa strategi marketing yang tepat.
Bagaimana Cara Memulai Bisnis Skincare untuk Pemula?
Kalau Anda benar-benar baru di industri kecantikan, gunakan alur 9 langkah praktis ini untuk memandu langkah Anda:
- 01
Cari Market
Lihat kategori yang sudah memiliki demand tinggi. Gunakan marketplace, social media, review konsumen, dan data pasar sebagai bahan riset awal.
- 02
Tentukan Target Customer
Jangan langsung mengatakan “untuk semua perempuan”. Persempit, misalnya: Perempuan usia 23–30 tahun yang aktif bekerja dan membutuhkan skincare praktis.
- 03
Cari Problem
Identifikasi masalah nyata yang mereka rasakan, misalnya: Kulit mudah kusam akibat polusi dan tidak menyukai pelembap lengket.
- 04
Pilih Product
Tentukan jenis produk yang paling tepat untuk menjawab masalah tersebut, misalnya Lightweight Brightening Moisturizer.
- 05
Buat Product Brief
Tentukan benefit utama, arah bahan aktif (ingredients), tekstur, ukuran kemasan, target harga jual, dan positioning brand Anda.
- 06
Custom Formula
Bawa dan diskusikan product brief Anda bersama tim formulator R&D Dreamlab untuk meracik formula eksklusif.
- 07
Sample
Coba sampel formula yang dibuat, evaluasi tekstur, aroma, dan kenyamanan penggunaannya secara langsung.
- 08
Produksi & Legalitas
Setelah formula disetujui, Dreamlab mengurus perizinan BPOM dan sertifikasi Halal, lalu memproduksi produk di fasilitas CPKB Grade A.
- 09
Launch
Persiapkan branding, media promosi, konten digital, marketplace, media sosial, dan digital marketing untuk mulai menjual ke pasar.
Untuk memahami alur kerja sama secara detail, Anda bisa membuka halaman alur maklon Dreamlab.
Contoh Sederhana: Dari Masalah Customer Menjadi Brand
Mari kita lihat bagaimana sebuah masalah customer dapat diterjemahkan menjadi fondasi brand yang kokoh:
- Target Audiens: Perempuan usia 25–30 tahun
- Problem: Kulit mudah berminyak tetapi tetap membutuhkan hidrasi agar tidak dehidrasi
- Product: Lightweight Gel Moisturizer
- Positioning: Pelembap harian super ringan yang mengontrol minyak sekaligus menghidrasi
- Formula Direction: Formula water-based dengan Centella Asiatica dan Hyaluronic Acid
- Content Hook: “Kulit berminyak bukan berarti tidak butuh moisturizer — ini alasannya.”
- Marketing Funnel: Edukasi skin barrier → consideration produk → demo tekstur cepat meresap → konversi penjualan
Sekarang Anda tidak lagi hanya memiliki “produk moisturizer biasa”. Anda sudah memiliki: Target + Problem + Product + Positioning + Communication. Dan itulah fondasi brand yang kuat.
Mulai Brand Skincare Anda Bersama Dreamlab
Tidak semua calon brand owner datang ke Dreamlab dengan formula yang sudah siap di tangan. Ada yang datang hanya membawa ide kasar. Ada yang membawa referensi produk favorit. Ada yang sudah tahu target pasarnya, dan ada juga yang baru tahu satu hal: “Saya ingin punya brand skincare sendiri.”
Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi titik awal.
Dreamlab membantu mengembangkan produk melalui riset R&D custom formula, sampling, pendaftaran BPOM & Halal, desain kemasan, produksi massal, hingga dukungan materi promosi dan digital marketing.
Dengan prinsip 1 Client = 1 Custom Formula, formula Anda 100% eksklusif dan tidak akan pernah diberikan kepada brand lain. Pelajari juga simulasi komponen biaya maklon dan ketentuan MOQ fleksibel Dreamlab.
Tidak Perlu Menunggu Brand Anda Sempurna untuk Memulai
Anda tidak harus langsung memiliki banyak produk. Tidak harus langsung memiliki pabrik atau formula sendiri. Dan tidak harus langsung tahu semua seluk-beluk teknis industri kosmetik.
Mulailah dari tiga pertanyaan mendasar:
- Siapa customer Anda?
- Apa masalah yang mereka rasakan?
- Produk apa yang paling relevan untuk menjawab masalah tersebut?
Setelah itu, formula dapat dikembangkan, produk dapat diproduksi secara legal, brand dapat dibangun, dan pasar dapat mulai diuji bersama Dreamlab.
Yuk, Mulai Diskusikan Brand Skincare Anda Bersama Dreamlab
Punya ide produk pertama? Ceritakan kepada Dreamlab dan diskusikan bagaimana konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi custom formula yang sesuai dengan kebutuhan dan positioning brand Anda.
Ide → Formula → Produk → Brand → Market
Konsultasi Gratis dengan DreamlabFAQ Bisnis Skincare
Berapa MOQ untuk memulai brand skincare di Dreamlab?
MOQ (Minimum Order Quantity) dapat disesuaikan berdasarkan jenis produk, formula, kemasan, dan kebutuhan produksi. Dreamlab menyediakan opsi MOQ yang fleksibel untuk membantu brand owner pemula memulai bisnis dengan risiko terkendali.
Berapa biaya membuat brand skincare sendiri?
Biaya dipengaruhi oleh jenis produk, tingkat keunikan formula, konsentrasi bahan aktif, jenis kemasan, dan jumlah produksi yang dipesan. Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan tim Dreamlab untuk mendapatkan simulasi estimasi biaya dan HPP yang akurat.
Bagaimana langkah pertama membuat brand skincare?
Langkah pertama adalah menentukan target customer dan masalah kulit spesifik yang ingin dijawab. Setelah menentukan jenis produk, Anda dapat membawa ide tersebut ke Dreamlab untuk dirancang formulanya bersama tim R&D menjadi custom formula eksklusif.
Apakah Dreamlab membantu pengurusan izin BPOM dan sertifikasi Halal?
Ya. Seluruh produk diproduksi di pabrik dengan sertifikasi CPKB Grade A dan didampingi penuh oleh tim regulatory kami dalam pengurusan izin edar BPOM, sertifikasi Halal MUI, serta pendaftaran hak merek (HKI).
Apakah formula produk saya di Dreamlab dijamin eksklusif?
Ya. Dreamlab memegang komitmen teguh 1 Client = 1 Custom Formula. Setiap formula diracik khusus untuk brand Anda dan tidak akan pernah digunakan oleh brand lain.
Apakah Dreamlab hanya melayani produksi pabrik saja?
Tidak. Dreamlab adalah Beauty Brand Development Partner yang mendampingi Anda dari konsultasi konsep, formulasi R&D, sampling, legalitas BPOM & Halal, desain kemasan, produksi massal, hingga strategi digital marketing dan peluncuran produk.

